Pages

Tuesday, December 30, 2014

Totalitas cinta

Detik-detik Rasulullah saw menjelang sakratul maut yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai  menguning,burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah. "Wahai umatku, kita semua ada dalam  kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Sunnah dan Al Qur'an.Barang siapa mencintai  Sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku." Khutbah singkat itu diakhiri dengan  pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu.

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun  menahan napas dan tangisnya, Ustman menghela napas panjang dan Ali  menundukkan kepalanyadalam-dalam, Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar-.Saat itu, seluruh sahabat  yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.

Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup, Sedang di  dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat  dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar  pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya  masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah,  ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkanbadan dan menutup pintu.  Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah,  sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu  bagian wajahnya seolah hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan  kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.Dialah  malakul maut," kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap  diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah  menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu." kata Jibril.  Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan,  "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" tanya Jibril lagi, "Kabarkan  kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah,  aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku : 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada  di dalamnya." kata Jibril. Perlahan ruh Rasulullah ditarik,Tampak seluruh tubuh  Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernyamenegang, "Jibril, betapa sakit  sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau  melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril? " tanyaRasulullah pada  Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah  direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik,  karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini,  timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan  Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi, Bibirnya  bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segeramendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu.-" Di luar pintu tangis mulai terdengar  bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya,  dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai  kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii? Umatku,umatku, umatku-" Dan, pupuslah  kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya?  Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wasalim 'alaihi Betapa cintanya  Rasulullah kepada kita.

Kepada sahabat-sahabat muslim mari kita cintai Allah dan RasulNya, seperti  Allah dan Rasulnya mencinta kita-. Karena sesungguhnya selain daripada itu  hanyalah fana belaka.


oleh:nyunyu

No comments:

Post a Comment